Kategori
Uncategorized

5 LATIHAN UTAMA MENCIPTAKAN HUBUNGAN SESUAI IMPIAN _ PART 1

Teni Nurlatifah HR

Sebagai makhluk sosial, tentunya setiap waktu, hari kita pasti akan berinteraksi dengan orang lain, apakah itu pasangan, teman, guru, anak, orangtua, adik, dan lain sebagainya. Tak jarang permasalahan besar muncul dari masalah kecil dampak dari hubungan tersebut, apakah hubungan pernikahan, kekeluargaan ataupun hanya sekedar pertemanan, misalnya saling fitnah, adu domba, atau yang lebih ekstrem bisa saling melukai bahkan membunuh.

Namun konteks saat ini, saya hanya akan membahas hubungan dalam konteks pasangan suami isteri, yang bukan berarti saya ahli, namun berbagi ide yang pernah saya praktekkan dan berhasil dengan merujuk pada buku bacaan yang pernah saya baca.

Bukan berarti jika berhenti meributkan hal – hal kecil, maka akan terbebas dari masalah, atau tidak akan pernah bertengkar lagi. Sekali waktu Anda pasti berselisih. Tapi setidaknya Anda tidak akan lagi merasa frustasi, bahkan Anda mampu berjuang dan menghadapi berbagai masalah dengan hati lapang dan persfektif lebih luas.  Dengan kata lain, bahkan dalam belitan masalah sekalipun Anda yakin mampu mengatasi dan menyelesaikannya, sambil tetap membina hubungan yang penuh cinta.

Anehnya, umumnya kita lebih siap menghadapi masalah besar daripada masalah kecil sehari – hari. Contoh bila anak sakit, seluruh anggota keluarga bersatu, berbagi duka, saling mendukung, berdoa bersama, saling menguatkan dan mengungkapkan kasih dengan tulus. Contoh lain, bila mengalami masalah besar berupa tragedi anggota keluarga meninggal, bangkrut, atau mengalami peristiwa menyedihkan lainnya, bisa jadi mereka mengorbankan kepentingan pribadinya, melontarkan gagasan kreatif dan menyumbangkan tenaga dan pikiran. Untungnya hidup ini tidak berisi masalah – masalah yang benar- benar besar. Dengan kata lain, tidak setiap hari kita dipecat, mengajukan perceraian atau masuk ruang IGD RS.

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Kita tahu bahwa masalah besar harus kita hadapi dan atasi, karena itu kita mampu memberikan yang terbaik untuk menghadapi dan mengatasinya.

Kenyataannya, waktu kita habis untuk menghadapi masalah – masalah kecil yang terjadi setiap hari, setiap saat, misalnya pertengkaran kecil, saling menyesuaikan diri dalam kebiasaan sehari – hari, frustasi, kemacetan lalu lintas, telepon yang tidak dijawab, keributan kecil, perbedaan pendapat, barang hilang, kebisingan, dst. Karena itulah, maka saya yakin pentingnya MELATIH DIRI AGAR MAMPU MENGHADAPI MASALAH – MASALAH KECIL YANG SETIAP HARI DIHADAPI.

Meringkas dari Buku “Don’t sweat the small stuff in love,” karya Richard Carlson and Kristine Carlson ada 5 latihan utama yang dapat membantu menciptakan hubungan yang sesuai dengan yang diimpikan :

  1. Menjadi sahabat yang baik bagi pasangan
  2. Belajar humor
  3. Belajar melupakan
  4. Bersikap hangat
  5. Berpikirlah bahwa Rumput tetangga tidak selalu hijau

Penjelesan lebih detilnya silahkan simak pada artikel berikut ini :

Kategori
Uncategorized

Bagaimana Kebiasaan Itu Terbentuk

Teni Nurlatifah HR

Kebiasaan adalah perilaku otomatis (tanpa perlu kita pikirkan lagi) pada situasi dan kondisi tertentu. Seakan – akan sudah aoutopilot. Perilaku berulang, tanpa perlu kita memikirkannya, dan sangat mudah.

Contoh :

Kebiasaan baik ;

  1. Minum air putih segera setelah bangun tidur
  2. Saat dengar adzan langsung ambil air wudhu
  3. Setelah shalat isya membaca buku.

Kebiasaan buruk;

  1. Bangun tidur matiin alarm lalu tidur lagi
  2. Saat bosan cari cemilan
  3. Saat gabut/mood tidak jelas kita habiskan waktu untuk scrolling IG atau Youtube.

Hidup kita merupakan kumpulan kebiasaan – kebiasaan, yaitu kebiasaan2 baik dan kebiasaan2 buruk

Bagaimana kebiasaan terbentuk ?

Misalkan kita pindah domisili ke suatu tempat yang kita tidak tahu sama sekali tentang tempat tersebut, kemudian pagi hari kita berencana berangkat ke tempat kerja, karena kita tidak tahu rutenya maka kita akan menggunakan peta (zaman sekarang pakai google maps misalnya).

Tetapi setelah beberapa kali kita mengulangi perilaku tersebut, melakukan hal yang sama, peta sama, jalur sama, maka otak kita akan membentuk sebuah pola, sehingga perjalanan yang tadinya manual (harus dipikirkan, akan kemana, harus kemana) lama kelamaan jadi otomatis, bahkan setelah lewat 3 bulan, kita tidak akan sadar tentang proses perjalanan dari rumah ke kantor…. Akan secara otomatis keluar rumah melakukan perjalanan, tiba-tiba sampai ke kantor, sudah menjadi otomatis. Bahkan saking otomatisnya jika kita ada yang suruh titip beli sesuatu saat pulang kantor (misalkan pasangan kita), kita sering melupakannya, karena perilaku kita seakan – akan dikendalikan oleh pikiran bawah sadar kita.

Mengapa otak kita membentuk sebuah kebiasaan?

Jawabannya adalah karena otak kita tugasnya menghemat energi seminimal mungkin, sehingga ketika otak berhasil menghemat energi, maka otak akan memiliki energi untuk berkreasi dan berinovasi. Ia tidak akan menghabiskan energinya untuk hal-hal yang bisa dilakukan secara rutin. Untuk itulah otak membentuk pola-pola kebiasaan. Sehingga andaikan kita bisa melihat isi otak dengan sebuah alat misalnya, maka disana ada jalur-jalur syaraf otak yang membentuk kebiasaan, dan jalur syaraf ini sangat sulit untuk hilang.

Ada sebuah penelitian, nama Eugene Paully Pada tahun 2006, dia mengalami lupa ingatan, bahkan dia lupa dengan anaknya sendiri, tapi menariknya, dia masih ingat dengan kebiasaan-kebiasaannya setiap hari, dia ingat rute menuju rumahnya sendiri, karena kebiasaannya sudah mendarah daging, otak nya sudah membentuk pola syaraf tertentu yang menetap, sekalinya perilaku menjadi sebuah kebiasaan, dia tidak akan hilang.

Sekali kita bisa nyetir, meskipun kita berhenti nyetir selama 6 bulan atau 1 tahun, tubuh kita tidak akan lupa karena memorinya sudah pindah dari otak ke otot kita. Kita sudah gunakan memori otot saat kita sudah memiliki kebiasaan.

Jadi otak memang didesain untuk membentuk kebiasaan dengan tujuan untuk menghemat energi, sehingga energi yang dimiliki otak kita tidak habis untuk melakukan hal-hal yang bersifat rutinitas, tapi otak menjadi punya energi, punya ruang untuk berkreasi dan berinovasi.

 “We first make our habits and then our habits make us” – John Dryden

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

(Pada awalnya kita yang membentuk kebiasaan kita, tetapi pada akhirnya kebiasaanlah yang membentuk kita)

Orang2 sukses memiliki kebiasaan sukses, orang-orang gagal memilki kebiasaan gagal. Awalnya mereka membentuk kebiasaannya sendiri, namun seiring perjalanan waktu, kebiasaan yang mereka miliki membentuk diri mereka, identitas mereka, hasil-hasil yang mereka dapatkan.

Jadi kebiasaan yang kita miliki menentukan masa depan kita.

Masa depan seperti apa yang akan kita ciptakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang kita miliki saat ini. Ingat … Orang2 sukses memiliki kebiasaan sukses, orang-orang gagal memilki kebiasaan gagal.

Kebiasaan apa yang kita miliki itulah yang akan menentukan masa depan, jika kita memilki kebiasaan-kebiasaan positif, kebiasaan produktif, kebiasaan memberdayakan maka hasil-hasil yang akan kita dapatkan pun, hasil-hasil yang positif, hasil-hasil yang produktif dan hasil yang memberdayakan.

Sebaliknya jika kita memilki kebiasaan negatif… maka hasil yang didapatkanpun hasil-hasil yang negative, hasil tidak produktif dan hasil yang tidak memberdayakan.

Mungkin awalnya melakukan 1 perilaku, hanya iseng, misalnya jika bosan kita melakukan scrolling Fb/Ig/Youtube, tapi jika hal itu dilakukan berulang-ulang, sehingga akhirnya otak membentuk syaraf dan membentuk kebiasaan “jika bosan, scrolling HP” maka bisa dibayangkan berapa banyak waktu yang terbuang dengan kebiasaan yang kita miliki tsb, rata2 orang Indonesia menghabiskan waktunya 2 – 4 jam di depan sosmed, padahal waktu itu bisa digunakan untuk hal-hal produktif.

Sekian dulu ya… lanjut besok, InsyaAllah

Kategori
Uncategorized

Masih tentang Bakat

Talent Mapping bukan dukun, dan begitu juga semua assessment/tes bakat/psikotes dan model assessment apapun bukanlah dukun. Ketika kita mengisi sebuah assessment, artinya kita sudah mengetahui diri kita.

Hasil sebuah konvensi, assessment sebaiknya dilakukan mulai usia di 14 sd. 16 tahun, dengan anggapan bahwa di usia tersebut sudah memahami dirinya. Dikatakan bahwa anak usia SMU 40 – 60% sudah mengetahui dirinya, sedangkan yang telah bekerja 70 sd 90%, telah mengetahui dirinya. Namun yang menarik ada umur 9 tahun bagus hasilnya sedangkan orang usia 23 tahun masih bingung mengisinya, bahkan yang bersangkutan lulusan sebuah PTN ternama di Indonesia

Jadi sepertinya bukan umur yang mempengaruhinya. Akan tetapi adalah pengalaman, orang akan lebih mengetahui dirinya melalui pengalaman.

Bicara bakat, pasti bicara agama, karena bakat itu sudah ada sejak kita dilahirkan. Ini sesuai konsep fitrah, yang tercantum dalam Hadits Nabi SAW “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.”

Selanjutnya, bakat tidak terkait langsung dengan kinerja, artinya jika kita merasa cocok banget belum tentu kita unggul, karena kinerja itu terdiri dari 4 komponen. Dulu dinamakan KSA,

K = Knowledge (Pengetahuan)

S = Skill (Keterampilan)

A = Attitude (Sikap)

Akan tetapi ada yang menarik yaitu pada komponen A, karena disana ada elemen yang tidak bisa diubah yaitu bakat.

Saat ini berkembang istilahmya menjadi TASK, dimana T-nya adalah Talent = Bakat, namun hal inipun tidak menjamin orang akan perform/unggul dalam pekerjaannya karena dipengaruhi lingkungan. Misalnya seseorang yang masuk lingkungan tidak kondusif, maka dia tetap tidak akan perform/unggul. Yang dimaksud lingkungan disini termasuk atasan atau teman-teman di sekitarnya

Mengerucut dari bahasan di atas,  kita tidak perlu khawatir, karena pada dasarnya kita semua berbakat untuk menjadi hebat. Hanya saja bakat kita berbeda-beda. Kenali bakat kita lalu latih keterampilan yang akan menguatkan dan mengasah bakat Anda dan Anda akan menjadi hebat di sana. Jangan ajari ikan untuk terbang. Kita semua dilahirkan dengan seperangkat bakat yang unik. Inilah yang membuat kita berbeda. Inilah yang membuat kita bermakna.

Simpulannya bakat adalah pembawaan alamiah kita. Ini adalah karunia Tuhan yang diamanahkan kepada kita. Kenali bakat kita, dan kita kan mengenali mengapa Tuhan melahirkan kita di dunia.

Nah sekarang, apakah sudah tahu apa bakat Anda?

Kategori
Uncategorized

Tentang Bakat

Apa sih definisi Bakat? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bakat adalah : Dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa sejak lahir.

Kata kuncinya:

  • Kepandaian, sifat dan pembawaan.
  • Dibawa sejak lahir.
  • Alamiah.
  • Tanpa perlu belajar.

Coba kita cek, apakah kemampuan berakting, misalkan, dibawa sejak lahir? Tentu tidak. Kemampuan semacam ini adalah hasil dari latihan. Jadi, kita tidak tepat jika mengatakan kemampuan semacam ini sebagai bakat.

Kita perlu membedakan antara bakat (yang muncul alamiah tanpa perlu dipelajari) dengan keterampilan (yang dapat dilatih).

Bakatlah yang menjadikan manusia itu unik karena bakat adalah faktor yang membedakan antara satu orang dengan orang lainnya. Meskipun sama-sama belajar menyanyi, setiap orang akan muncul dengan hasil yang berbeda tergantung bakat bawaannya.

Tanpa bakat, keahlian Anda hanya akan sampai level bagus. Bakatlah yang membuat keahlian Anda menjadi hebat.

Minat tes bakat secara Cuma-Cuma, hubungi japri ya….